Dalam Kurikulum Merdeka, model pembelajaran berbasis masalah (PBL) menjadi semakin populer. Model ini menempatkan siswa di pusat kegiatan belajar dengan menyelesaikan masalah nyata. Oleh karena itu, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman tentang ide-ide tersebut, tetapi mereka juga memperoleh keterampilan berpikir kritis, bekerja sama, dan memecahkan masalah, yang merupakan keterampilan yang sangat penting di abad ke-21.
PBL adalah pendekatan pembelajaran yang dimulai dari masalah nyata. Tidak ada satu pun solusi untuk masalah ini, jadi siswa didorong untuk mencari tahu, berbicara, dan membuat solusi berdasarkan analisis mereka sendiri. Kemdikbud (2020) menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis masalah sangat direkomendasikan untuk kurikulum merdeka karena membantu siswa memperoleh pemahaman yang signifikan melalui pengalaman langsung.
PBL memiliki keunggulan pada proses pembelajarannya. Peserta didik tidak hanya menerima materi, tetapi juga berpartisipasi dalam pencarian, penyelidikan, dan refleksi informasi. Bukan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, guru bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan pikiran siswa. Siswa belajar secara mandiri, menjadi sangat ingin tahu, dan bekerja sama dalam tim dalam lingkungan belajar seperti ini.
Guru harus membuat masalah nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa agar model PBL berhasil. Misalnya, saat mengajar IPA, guru dapat mendiskusikan masalah pencemaran air di lingkungan sekitar. Saat mengajar IPS, guru dapat mendiskusikan masalah sosial lokal seperti sampah atau kemacetan. Proses pembelajaran menjadi lebih relevan ketika masalah yang dihadapi terkait dengan dunia nyata. Selain itu, masalah-masalah ini mendorong siswa untuk menemukan solusi.
Kurikulum Merdeka juga menganut prinsip asesmen formatif. Selama proses penyelidikan, guru dapat melacak kemajuan siswa, memberikan kritik, dan menilai kemampuan berpikir kritis dan kerja sama mereka. Oleh karena itu, pembelajaran melibatkan proses berpikir siswa serta hasil akhir.
Guru sering menggunakan sintaks atau tahapan model PBL saat merancang dan melaksanakan pembelajaran. Sintaks ini membantu proses berjalan terstruktur dan terarah dan membantu mereka menyusun modul ajar.
Masalah yang dipresentasikan oleh guru adalah masalah yang nyata atau real kejadian di lingkungan khalayak umum dan juga masalah yang sulit, untuk mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mempelajari lebih dalam.
Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan mendiskusikan apa saja yang mereka ketahui, apa yang mereka cari, dan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah.
Ditekankan pada tahap ini, siswa mencari informasi melalui observasi, studi literatur, eksperimen sederhana, atau wawancara. Guru hanya memberikan instruksi tetapi tidak intervensi dalam proses.
Setelah penelitian selesai, siswa mengubah data menjadi produk atau solusi. Output dapat berupa laporan, presentasi, poster, atau prototipe sederhana.
Pada tahap terakhir, guru dan siswa menganalisis mengenai: apa yang telah dilakukan, apa yang perlu diperbaiki, dan pemahaman apa yang mereka dapatkan dari masalah yang diteliti.
Pembelajaran berbasis masalah (PBL) telah terbukti meningkatkan pemahaman konsep siswa karena memfasilitasi pembelajaran langsung. Model ini juga meningkatkan kreativitas, analisis, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills). Menurut penelitian, pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan rasa memiliki dan motivasi untuk belajar.
PBL sangat cocok untuk digunakan saat membuat modul ajar Kurikulum Merdeka karena banyak keunggulannya. Guru dapat menilai proses dan hasil secara akurat, menyesuaikan masalah dengan konteks lokal, dan mengatur langkah pembelajaran yang fleksibel. PBL adalah pendekatan mengajar yang luas yang membantu membangun peserta didik yang kritis, inovatif, dan mandiri.