Discovery Learning adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa sebagai penemu ide melalui pengalaman langsung dan eksplorasi. Guru membantu siswa menemukan cara sendiri. Pendekatan ini banyak digunakan dalam mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman konsep dan proses berpikir ilmiah, seperti matematika, IPS, dan IPA.
Tujuan utama pembelajaran Discovery adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemahaman konsep yang lebih mendalam. Karena proses menemukan sendiri melibatkan aktivitas mental yang lebih tinggi, peserta didik cenderung lebih mudah mengingat materi. Model ini juga dapat membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar karena mereka merasa terlibat secara aktif dalam mencari jawaban, menurut beberapa penelitian pendidikan (Bruner, 1961).
Model ini selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan belajar aktif, berkolaborasi, dan berbasis pengalaman. Guru dapat mengubah prosedurnya sesuai dengan konteks kelas, kompetensi dasar yang ingin dicapai, dan tingkat kemampuan siswa.
Berikut sintaks umum Discovery Learning yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran:
Untuk mendorong siswa untuk berpikir dan bertanya, guru menggunakan pemantik seperti pertanyaan, fenomena, bacaan, video, atau masalah nyata.
Melalui proses discovery, siswa merumuskan masalah atau pertanyaan penting yang ingin mereka jawab.
Pada tahap ini, siswa aktif mengeksplorasi sumber belajar melalui observasi, membaca referensi, eksperimen, atau diskusi kelompok.
Siswa mulai menyusun logika berdasarkan temuan mereka setelah mengolah data untuk menemukan pola, hubungan, atau konsep tertentu.
Untuk memastikan bahwa ide itu benar, siswa memeriksa temuan atau temuan mereka dengan teori atau sumber ilmiah.
Penyimpulan pengetahuan yang dihasilkan dari proses pengambilan data.
Dengan menyesuaikan konteks dan tingkat kompleksitas, pembelajaran discovery (discovery learning) dapat diterapkan pada hampir semua mata pelajaran. Misalnya, siswa yang belajar IPA dapat melakukan percobaan sederhana; siswa yang belajar matematika dapat menemukan pola bilangan; dan siswa yang belajar IPS dapat menganalisis peristiwa sejarah atau fenomena sosial. Jika guru dapat membuat skenario pemantik yang efektif dan mengelola pertanyaan siswa dengan baik, maka model ini akan berhasil.