Teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah pendidikan. Sekarang guru dapat menggunakan berbagai alat digital untuk membantu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Kemdikbudristek (2022) menyatakan bahwa teknologi adalah bagian penting dari upaya untuk membuat pembelajaran yang efektif, adaptif, dan berpusat pada siswa. Dalam situasi seperti ini, kecerdasan buatan menjadi alat strategis yang memiliki kemampuan untuk mendukung keprofesionalan guru.
AI dapat membantu guru membuat perangkat pembelajaran seperti skenario pembelajaran, modul ajar, asesmen, dan lembar kerja. Teknik ini membuat proses penyusunan dokumen lebih cepat tanpa mengurangi kualitas isi. Guru tetap bertindak sebagai penelaah akhir untuk memastikan kesesuaian dengan konteks kelas, kurikulum, dan karakteristik siswa. Oleh karena itu, AI tidak berfungsi sebagai pengganti kemampuan pedagogis guru, melainkan sebagai asisten profesional.
Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya diferensiasi untuk memenuhi kebutuhan beragam peserta didik (Kemdikbudristek, 2022). AI dapat membantu guru menganalisis kebutuhan belajar, membuat variasi materi, serta menyesuaikan tingkat kesulitan soal. Hal ini memungkinkan guru memberikan pembelajaran yang lebih personal dan adaptif, terutama di kelas dengan jumlah peserta didik yang besar.
Rekap nilai, penjadwalan, rubrik, dan analisis progres belajar dapat dilakukan lebih cepat dengan AI. Dengan efisiensi ini, guru dapat lebih berkonsentrasi pada interaksi langsung dengan siswa mereka, yang merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
AI dapat mendorong guru agar lebih kreatif dalam merancang experience dalam pembelajaran. Guru dapat memanfaatkan AI untuk:
Walaupun AI memungkinkan untuk membantu banyak hal, guru masih memiliki tugas moral dan profesional untuk menggunakan teknologi tersebut. Guru harus memastikan bahwa konten yang dibuat oleh AI sesuai dengan kurikulum, tidak bias, dan tetap mencerminkan nilai-nilai pendidikan. Mereka juga harus memastikan bahwa AI digunakan secara proporsional agar tidak mengurangi kreativitas dan pemahaman mendalam siswa tentang materi yang diajarkan.
Kemdikbudristek. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen . Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.